Usai UN, Siswa SD Coret Seragam
CIPUTAT, TAPOS. Mencorat-coret seragam sekolah pasca Ujian Nasional (UN) dinilai sudah menjadi tradisi yang sulit untuk dirubah (dihapus) bagi kalangan pelajar. Namun, kebiasaan ini pun menjalar hingga ke tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Tangerang Selatan.
Aksi coret mencoret ini terlihat di Jalan Dewi Sartika, Ciputat. Setidaknya ada 10 pelajar SD melakukan coret seragam menggunakan cat semprot (pilo) setelah selesai melaksanakan UN.
“Ya karena baru selesai ujian akhirnya saya dan teman-teman melakukan coret-coret baju,” ujar Sahrul, pelajar SD Bojong Sari, Ciputat saat ditanya alasan mencorat-coret seragamnya, di jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kamis, (10/5/2012).
Pelajar SD ini berjalan-jalan di trotoar dekat pasar Ciputat. Seragam Sahrul bersama kesembilan rekannya terlihat dipenuhi coretan pilok berwarna biru, hijau dan merah. Mereka mengaku membeli sendiri pilok-pilok tersebut.
“Kan ujiannya udah selesai, akhirnya saya dan teman-teman patungan untuk memberli pilok sebanyak tiga kaleng dan satunya Rp. 19.000 ,” tuturnya.
Para siswa itu mengaku apa yang mereka lakukan tidak dilarang oleh pihak sekolah, bahkan cenderung dibiarkan. “Sekolah engga ngomong apa-apa, tahun kemarin juga sama. Ya engga dimarahin,” ucapnya.
Bahkan mereka seolah bangga menunjukkan coretan di seragam yang dipenuhi tanda tangan dan simbol-simbol buatan mereka. “Ini (simbol) anarki,” ujar Sahrul sambil menunjuk coretan di salah satu seragam bagian belakang milik rekannya.
Ketua Komisi B DPRD Tangsel, Rommy Adie Santoso mengatakan, adanya aksi coret-coret seragam sekolah pasca UN ini harus menjadi perhatian khusus dari Kepala sekolah. “Masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar coret-coretan,” imbuhnya.
Untuk itu, Rommy berharap agar para sekolah terus melakukan pemantauan kepada anak muridnya disaat UN maupun pasca UN.
“Sekolah harus lebih dulu untuk mencegah, kalau perlu buat nasi tumpeng atau perayaan lainya saja pasca UN,” paparnya.
Sementara, Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Tangsel Faisal Anwar menjelaskan, hal tersebut memang merupakan fenomena yang tidak asing lagi. Pasca ujian banyak para pelajar yang melakukan aksi ini, bahkan hingga siswa Sekolah Dasar (SD). “Hal ini perlu di cermati guru didik sehingga aksi coret-coret dapat dihindarkan,” tukasnya.
Aksi tersebut justru merupakan peristiwa yang tidak positif dan tidak mencerminkan pendidikan karakter yang baik. ”Mungkin selama 3 hari ujian para siswa merasa tertekan dengan pelajaran, makanya setelah UN, untuk meluapkan kegembiraanya, para pelajar melakukan aksi ini. Tapis seharusnya guru sekolah bisa memantau kegiatan siswa selesai UN,” terangnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Faisal, seharusnya pihak sekolah wajib menyiapkan langkah-langkah menjelang UN maupun pasca UN. “Persiapan jangan dilakukan sebelum UN saja, tetapi sehabis UN juga harus disiapkan,” pungkasnya.(bam)







