Pengumuman untuk kelulusan UN tingkat SLTP ini sendiri baru akan diumumkan secara serentak di setiap sekolah pada Sabtu (2/6) besok.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Banten Hudaya Latuconsina mengatakan, peserta dinyatakan lulus atau tidak setelah melalui pengolahan nilai BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) yaitu penjumlahan dari bobot nilai sebanyak 60 persen, dan bobot sekolah sebanyak 40 persen.
Nilai akhir tersebut lah yang menjadi indikator kelulusan sekaligus menjadi bahan pertimbangan kelulusan siswa.
“Dari hasil pengolahan itu dapat dinyatakan sebanyak 164.546 atau 99,89 persen siswa lulus, sementara 176 siswa belum memenuhi indikator nilai akhir utk memenuhi kelulusan,” kata Hudaya, Kamis (31/5).
Bagi peserta UN yang dinyatakan tidak lulus, lanjutnya, maka satuan pendidikan harus memastikan agar 176 siswa itu mengikuti ujian kesetaraan paket B pada Juli 2012 mendatang.
Ujian kesetaraan ini tidak hanya mereka yang dinyatakan tidak lulus, tapi juga diperuntukan bagi siswa yg sudah terdaftar dalam UN tetapi mengundurkan diri dalam pelaksanaan UN-nya.
“Satuan Pendidikan harus meminta kepada seluruh Kepala Sekolah/Madrasah untuk segera mendaftarkan muridnya yang dinyatakan tidak lulus dan juga tidak mengikuti ujian, melalui Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota masing-masing,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hudaya juga mengatakan ada yang menarik dalam UN SMP/MTs ini, karena ada siswa Banten yang masuk kategori 25 nilai tertinggi secara nasional. Siswa terbaik tersebut adalah Adelia Suryani, asal SMP Penabur Kota Tangerang.
“Adelia masuk dalam kategori 25 nilai tertinggi karena angka hasil ujiannya juga tinggi, yaitu untuk pelajaran Bahasa Indonesia: 10, Bahasa Inggris : 9,80, Matematika : 10, dan nilai IPA : 10, sehingga jumlahnya 39,80,” jelasnya.
Hudaya meminta kepada semua pihak untuk terus mendorong agar para lulusan SMP/MTs ini melanjutkan proses pendidikannya ke jenjang selanjutnya, baik itu ke SMA, MA, ataupun SMK.
Sekedar diketahui, dari jumlah 164.722 siswa yang mengikuti UN tingkat SLTP tersebut, 119,271 adalah murid SMP, 1,924 SMP Terbuka, dan 43,527 adalah murid MTs.
Sedangkan untuk tingkat kelulusan terbanyak diraih Kota Cilegon, yaitu sebanyak 7.121 dari 7.125 peserta yang ikut UN, atau tingkat kelulusannya mencapai 99,94 persen karena hanya ada empat siswa yang dinyatakan tidak lulus.
Kemudian, persentase kelulusan paling rendah ada di Kabupaten Tangerang, karena dari 43.228 peserta, ada 50 siswa yang dinyatakan tidk lulus, dengan kata lain persentase kelulusannya adalah 99,88 persen.(yul)
]]>Aksi coret mencoret ini terlihat di Jalan Dewi Sartika, Ciputat. Setidaknya ada 10 pelajar SD melakukan coret seragam menggunakan cat semprot (pilo) setelah selesai melaksanakan UN.
“Ya karena baru selesai ujian akhirnya saya dan teman-teman melakukan coret-coret baju,” ujar Sahrul, pelajar SD Bojong Sari, Ciputat saat ditanya alasan mencorat-coret seragamnya, di jalan Dewi Sartika, Ciputat, Kamis, (10/5/2012).
Pelajar SD ini berjalan-jalan di trotoar dekat pasar Ciputat. Seragam Sahrul bersama kesembilan rekannya terlihat dipenuhi coretan pilok berwarna biru, hijau dan merah. Mereka mengaku membeli sendiri pilok-pilok tersebut.
“Kan ujiannya udah selesai, akhirnya saya dan teman-teman patungan untuk memberli pilok sebanyak tiga kaleng dan satunya Rp. 19.000 ,” tuturnya.
Para siswa itu mengaku apa yang mereka lakukan tidak dilarang oleh pihak sekolah, bahkan cenderung dibiarkan. “Sekolah engga ngomong apa-apa, tahun kemarin juga sama. Ya engga dimarahin,” ucapnya.
Bahkan mereka seolah bangga menunjukkan coretan di seragam yang dipenuhi tanda tangan dan simbol-simbol buatan mereka. “Ini (simbol) anarki,” ujar Sahrul sambil menunjuk coretan di salah satu seragam bagian belakang milik rekannya.
Ketua Komisi B DPRD Tangsel, Rommy Adie Santoso mengatakan, adanya aksi coret-coret seragam sekolah pasca UN ini harus menjadi perhatian khusus dari Kepala sekolah. “Masih banyak hal yang lebih penting dari sekedar coret-coretan,” imbuhnya.
Untuk itu, Rommy berharap agar para sekolah terus melakukan pemantauan kepada anak muridnya disaat UN maupun pasca UN.
“Sekolah harus lebih dulu untuk mencegah, kalau perlu buat nasi tumpeng atau perayaan lainya saja pasca UN,” paparnya.
Sementara, Sekretaris Dewan Pendidikan Kota Tangsel Faisal Anwar menjelaskan, hal tersebut memang merupakan fenomena yang tidak asing lagi. Pasca ujian banyak para pelajar yang melakukan aksi ini, bahkan hingga siswa Sekolah Dasar (SD). “Hal ini perlu di cermati guru didik sehingga aksi coret-coret dapat dihindarkan,” tukasnya.
Aksi tersebut justru merupakan peristiwa yang tidak positif dan tidak mencerminkan pendidikan karakter yang baik. ”Mungkin selama 3 hari ujian para siswa merasa tertekan dengan pelajaran, makanya setelah UN, untuk meluapkan kegembiraanya, para pelajar melakukan aksi ini. Tapis seharusnya guru sekolah bisa memantau kegiatan siswa selesai UN,” terangnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Faisal, seharusnya pihak sekolah wajib menyiapkan langkah-langkah menjelang UN maupun pasca UN. “Persiapan jangan dilakukan sebelum UN saja, tetapi sehabis UN juga harus disiapkan,” pungkasnya.(bam)
]]>
CIPUTAT, TAPOS. Prihatin. Demikian kondisi pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Serua I dan IV, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Senin (7/5).
Betapa tidak, UN yang digelar pagi kemarin, diguyur hujan sejak pagi hari. Apalagi, seperti diketahui bahwa sekolah di dekat kantor Kecamatan Ciputat ini kerap kali banjir saat hujan turun. Belum lagi, fisik bangunan lapuk dan atapnya kerap kali bocor.
Pantauan Tangsel Pos di lokasi, meski tidak sampai banjir, namun ember tampak diletakkan di salah satu ruang kelas untuk menampung air hujan yang mengucur dari atap lapuk.
Meskipun mengerjakan soal Bahasa Indonesia dengan penuh ketakutan akan datangnya banjir, namun sebanyak 62 murid SDN Serua I dan 65 murid SDN Serua IV tetap mengerjakan soal dengan penuh konsentrasi hingga waktu pengerjaan usai, atau selama dua jam.
Kepala SDN Serua IV, Nuradi Mahim, mengatakan, untuk sementara anak didiknya masih mengerjakan UN di bangunan sekolah yang saat ini ada. Karena menurutnya, kondisi fisik sekolah masih memungkinkan untuk mengerjakan UN. Apalagi diakuinya, murid-murid optimis dapat mengerjakan soal-soal dengan baik, walaupun kondisi ruang kelas ada yang bocor.
“Kita masih mengerjakan UN di SDN Serua IV. Namun, jika kondisi Selasa (8/5) banjir, kita baru pindah ke Sekolah Waskito (lokasinya di depan SDN Serua I dan IV), dikarenakan anak-anak murid, menginginkan mengerjakan soal di sekolahnya sendiri. Sehingga kita masih memilih untuk mengerjakan UN di sekolah sendiri,”ungkap Nuradi saat ditemui di sela-sela UN berlangsung.
Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Tangsel dan pihak Yayasan Waskito, kata Nuradi, sudah menyiapkan ruang kelas untuk pelaksanaan UN murid SDN Serua I dan IV. Jika sewaktu-waktu banjir, murid-murid langsung mengerjakan UN di Yayasan Waskito.
“Senin malam, nama dan nomor peserta akan ditempelkan di Waskito, jika besok cuaca tidak mendukung, kita langsung pindah,”tambahnya.
Sementara Kepala Sekolah Waskito, Maidah, mengatakan pihak Dindik Tangsel sudah melakukan koordinasi dengan pihaknya untuk dapat menggunakan ruang kelas dalam melaksanakan UN ketika kondisi sekolah banjir. Yayasan Waskito, lanjutnya, sudah menyiapkan empat ruang kelas dan satu ruang pengawas untuk SDN Serua I dan empat ruang kelas dan satu ruang pengawas untuk SDN Serua IV.
“Kita sudah menyiapkan ruangan di lantai atas dengan total keseluruhan ruangan yang akan digunakan sebanyak 10 ruang,” ungkap Maidah saat ditemui usai pelaksanaan UN di Waskito.
Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Dindik Kota Tangsel, Matoda mengatakan, dalam pelaksanaan UN SDN Serua I dan IV pihaknya memang sudah berkoordinasi dengan Yayasan Waskito, jika kondisi kedua sekolah itu banjir. Namun untuk kemarin, kata dia, meski beberapa atap bocor, namun pelaksanaan UN di kedua SDN itu masih lancar.
“Dari awal kita sudah mengantisipasi untuk mengalihkan mereka mengerjakan UN di Waskito, Dinas tidak memaksa mereka untuk pindah, karena anak-anak nyaman dengan kondisi saat ini,”ungkap Matoda.
Salah seorang murid SDN Serua IV, Ayu mengatakan, ia bersama teman-teman yang lain menginginkan untuk mengerjakan UN di sekolahnya, meskipun dalam kondisi was-was akan datangnya banjir. “Enakan di sekolah sendiri ngerjainnya, disana ada AC-nya dingin,”ujarnya.
Secara umum, pelaksanaan UN hari pertama tingkat SD di Kota Tangsel berjalan lancar. Seperti pelaksanaan UN di SDN Ciputat 6 yang berjalan kondusif. Sebanyak 201 murid mengikuti UN dengan tenang dan tidak ada satu pun kelas yang mengalami kebocoran
Berdasarkan data dari Dindik Kota Tangsel, UN tingkat SD di kota pemekaran dari Kabupaten Tangerang ini diikuti sebanyak 21.947 murid. Terdiri dari 19.522 murid berasal dari Sekolah Negeri dan 2.425 murid dari Madrasah Ibtidaiyah. Sementara, UN dilaksanakan di 388 sekolah. Dengan rincian, 311 SDN dan 77 sekolah Madrasah Ibtidaiyah.(irm/bam)
]]>
CIPUTAT, TAPOS. Tercela. Bukannya berdoa supaya mendapatkan nilai bagus. Eh, ini malah berniat tawuran setelah mengerjakan soal-soal ujian nasional (UN).
Tindakan tercela itu dilakukan puluhan pelajar SMK Sasmita Jaya, Pamulang. Dilaporkan, puluhan pelajar SMK Sasmita Jaya, digiring Polsek Ciputat setelah melakukan aksi vandalism usai pelaksanaan UN, kemarin.
Para pelajar ini ditangkap ketika berada di dalam bus Koantas Bima dengan jumlah cukup banyak. Polisi menemukan puluhan senjata tajam (sajam) berupa celurit didalam bus yang ditumpangi siswa.
“Razia dilakukan untuk mencegah bentrokan antar pelajar usai pelaksanaan UN,” kata Kompol Alip, Kapolsek Ciputat. Dijelaskannya dalam razia tersebut diamankan 80 orang yang seluruhnya merupakan pelajar SMK Sasmita Jaya.
Dari tangan para pelajar tersebut, sedikitnya 10 celurit didapatkan. Tetapi anehnya, para pelajar ini tidak mengaku celurit tersebut milik mereka. Senjata tajam tersebut sengaja mereka tempatkan di bawah jok bus Koantas Bima.
Kepolisian sendiri terang Kapolsek hanya melakukan pendataan para pelajar tersebut dan memanggil para orang tua murid. Selanjutnya memberikan pembinaan dan dipulangkan.
“Kami tidak menahan mereka dan lebih memberikan pengarahan danmenyerahkan kepada pihak sekolah,” katanya.
Sementara seorang pelajar yang tertangkap berkilah mereka bergerombol menaiki bus Koantas Bima semata-mata menuju Situ Gintung untuk merayakan acara pasca kelulusan. Mereka mengaku tidak berniat melakukan aksi tawuran. “Bukan punya kami itu celurit,” kata pelajar yang tidak mau namanya disebutkan itu.
Sementara itu, Pembina OSIS SMK Sasmita Jaya Agung Budianto kepada wartawan menerangkan siap memberikan sanksi tegas kepada para pelajar terkena razia dan terbukti membawa senjata tajam. “Kami akan beri sanksi tegas. Bila perlu dikeluarkan,” katanya.
Agung mengatakan untuk anak STM Sasmita yang masih duduk di bangku kelas 1 dan 2 dan terlibat dalam aksi membawa senjata tajam serta melakukan aksi coret-coret, akan dikeluarkan dari sekolah. Karena sudah melanggar untuk ketiga kalinya.
“Kami sudah berunding pihak sekolah dan untuk anak kelas 1 dan 2 akan dikeluarkan. Kami mengeluarkan bukan tanpa peringatan terlebih dahulu, pihak sekolah sudah memberikan peringatan kepada mereka,” ungkapnya.
80 orang siswa SMK Sasmita Jaya masih diamankan di Polsek Ciputat dan mulai dijemput orang tua masing-masing. Orang tua siswa diminta untuk menandatangani surat pernyataan untuk melakukan pembinaan terhadap anaknya.
Anggota Dewan Pendidikan Kota Tangsel, Rifky Hermiansyah menilai aksi corat-coret seragam sekolah pasca-pelaksanaan UN tidak bermanfaat.
Lebih baik seragam sekolah disumbangkan kepada orang yang membutuhkan atau bisa juga digunakan untuk kegiatan bakti sosial kemasyarakatan.
“Kami berharap seragam mereka dapat disumbangkan bagi yang membutuhkan. Tidak semua murid mempunyai seragam layak untuk sekolah, dari pada dicoret-coret lebih baik disumbangkan,” jelasnya.(irm)
]]>Untuk memastikan tidak adanya kebocoran soal, Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany meninjau langsung pelaksanaan di sejumlah sekolah, seperti di SMAN 2 Tangsel, MAN Insan Cendekia, dan SMAN 4 Tangsel.
Menurut dia, jika masyarakat mengetahui adanya kebocoran, maka dia meminta segera melaporkan ke Dinas Pendidikan setempat.
“Jika memang masyarakat mengetahui adanya bocoran soal langsung dapat menyampaikan ke Dinas Pendidikan atau ke sana (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), dengan bukti-bukti lengkap,” kata Airin selepas mantau di MAN Insan Cendekia.
Dalam pantauannya di beberapa sekolah, pada kesempatan tersebut, Airin memberikan dukungan moril kepada para peserta UN.
Adik ipar Gubernur Banten ini sempat berbincang-bincang dengan peserta UN. Para siswa mengaku sedikit tegang, meskipun sudah mempersiapkan UN sejak dua minggu lalu.
“Insya Allah semua berjalan lancar. Belum ada imformasi kebocoran soal. Justeru kalau wartawan ada informasi kebocoran soal, tolong beritahu dan berikan buktinya ya. Saya berharap, siswa yang mengikuti UN di Tangsel bisa lulus 100 persen,” tegas Airin.
Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kota Tangsel, Dedi Rafidi mengatakan, tahun ini, jumlah siswa yang ikut UN sebanyak 13050 siswa dari 122 sekolah yang terdiri dari 54 SMA, 56 SMK dan 12 MA.
Dedi mengatakan untuk hari pertama UN ini belum ada laporan yang masuk terkait siswa yang sakit atau tidak dapat mengikuti UN.
“Kami belum mendapatkan laporan terkait siswa yang tidak bisa mengikuti ujian, 100 persen masuk dan mengikuti ujian,”katanya.
Sementara saat memantau UN di MAN Insan Cendikia, Airin didampingi Direktur Pendidikan Madrasah Dirjen Pendidikan Islam, Prof Dr H Dedy Djubaedi. Dedy Djubaedi berharap 410 siswa MAN Insan Cendekia diharapkan bisa lulus 100 persen.
Sementara salah seorang siswi Ruth Nelta T, siswi kelas XII IPS-3 SMA Negeri 2, mengaku tak menyangka dapat bertemu dan memperoleh dukungan moril secara langsung dari Walikota.
Siswi yang rencananya akan melanjutkan ke Universitas Indonesia ini sudah mempersiapkan UN secara matang. Mulai dari metode pembelajaran di rumah dan sekolah, hingga kesiapan fisik serta mental untuk menghadapi UN.
“Senang sekali bisa ditemui ibu Walikota, apalagi dikasih semangat. Mudah-mudahan bisa dapat hasil yang memuaskan,” terang Ruth, sumringah seraya melakukan doa bersama dengan teman-temannya sebelum masuk ke dalam kelas.(irm)
]]>Penelusuran Tangsel Pos di lapangan, isu kebocoran soal sudah merebak di sejumlah sekolah. Bahkan Tangsel Pos mendapatkan pesan singkat (SMS) gelap bahwa di salah satu SMK kawasan di Serpong terdapat oknum sekolah yang memberikan bocoran jawaban kepada peserta UN.
Isu serupa juga diterima Kepala Sekolah SMAN 6 Pamulang, Agus Purwanto. Bahkan dia mendapatkan informasi terdapat jual beli kunci jawaban soal UN. “Tiap paket jawaban soal ditawarkan dengan harga Rp 70 ribu,” jelas Agus.
Artinya, untuk lima paket soal UN jenjang SMA/SMALB/MA dan SMK yang sudah disiapkan dalam lima paket berbeda bisa didapatkan dengan hanya Rp 350 ribu.
“Kami sampaikan masalah beredarnya kunci jawaban soal ini sudah menjadi hal jamak setiap menjelang pelaksanaan UN. Sangat tidak mungkin semua proses pengamanan dilakukan sedemikian ketat masih ada kebocoran kunci jawaban,” tambahnya.
Sementara Walikota Tangsel, Airin Rachmi Diany mengaku telah menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan dan civitas sekolah untuk matang dalam mempersiapkan pelaksanaan UN.
“Kami telah berkoordinasi, mengadakan Try Out (TO) dan pelatihan-pelatihan untuk mempersiapkan anak-anak di Tangsel untuk melewati UN sebaiknya,” kata Airin.
Adik ipar Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah ini melanjutkan, Banten menargetkan 100 persen lulus, berbagai langkah sudah dilakukan pihak sekolah seperti TO.(irm)
]]>Menjelang UN hari ini, kemarin Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah sekolah, termasuk di Tangsel yakni di SMAN 6 dan SMAN 1 Tangsel.
Di dua tempat ini, mantan Rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) ini melihat persiapan pelaksanaan UN dan memastikan pelaksanaan UN.
Katanya, ada tiga kriteria kesuksesan pelaksanaan UN. Rinciannya, ketepatan jumlah soal, tepat waktu dan kesesuaian soal dengan mata pelajaran yang diujikan.
“Semoga tidak ada kekurangan. Jika terjadi kekurangan sudah disiapkan mekanisme jalan keluarnya,” ujarnya.
Lanjutnya, ketepatan distribusi soal di tiap sekolah dan ketepatan jenis mata pelajaran yang diuji. Artinya, soal yang didistribusikan dan diterima setiap sekolah sesuai mata pelajaran yang akan diuji.
Meski menilai tiga kriteria tersebut dalam pelaksanaannya sudah lancar, M Nuh merasa belum cukup. Harus ada tim independen dari universitas dan guru sekolah lain untuk melihat situasi.
“Saya juga ingin memastikan tidak boleh ada alat komunikasi. Terpenting saat mengumpulkan LJK (lembar jawab komputer), jangan sampai mampir ke mana-mana,” tuturnya.
Mengantisipasi kebocoran soal, Nuh mengajak masyarakat untuk segera melaporkan ketika menemui adanya penyimpangan dalam pelaksanaan UN. Dia bilang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera menindaklanjuti laporan dan menindak setiap pelaku.
Nuh juga merasa yakin pelaksanaan UN di seluruh daerah, termasuk di Tangsel tahun ini berjalan lancar dan sukses.
Nuh juga merasa yakin tidak ada kebocoran soal. Jika memang masih ada kebocoran soal maka ditindak tegas. “Jika ada yang membocorkan akan ditindak tegas. Tolong yang mengetahui adanya kebocoran segera dilaporkan, kami akan segera tindak,” ujarnya.(irm)
]]>
Dalam rangka mempersiapkan peserta Ujian Nasional (UN) nanti, pihak Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 dan 4 Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar try out, Rabu (15/2).
Pelaksanaan Try out dilakukan di Gelanggang Olah Raga (GOR) Ciputat sekitar pukul 7.30 sampai 12.00 WIB. Agenda ini merupakan Try out pertama kali bagi seluruh siswa. Mata pelajaran yang diujikan antara lain Matematika, Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan (IPA).
Try out tersebut bekerja sama dengan beberapa lembaga bimbingan belajar dalam pelaksanaan try out, dengan harapan prediksi soal-soal try out tidaklah berbeda jauh dengan UN yang sebenarnya.
“Jika dalam try out ini masih ada kekurangan, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya.”, tutur Wakil Kepala Bidang Kesiswaan, Supratman kepada wartawan kemarin.
Kesuksesan bukanlah hal yang diraih dengan kerja keras saja. Namun do’a juga merupakan salah satu faktor utama keberhasilan. Semoga agenda Try Out dapat menggugah semangat siswa-siswi untuk terus belajar dan berdo’a demi mendapatkan hasil yang maksimal pada UN 2012.(bam/bin)
]]>
SERANG, TAPOS. Ribuan lembar ijasah rusak dan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) 2011 dimusnahkan pihak Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Banten. Pemusnahan dokumen dengan cara dibakar dilakukan di lapangan kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), kemarin sore.
“Ijasah dan SKHUN yang dianggap rusak itu karena ada kesalahan dalam pengisian seperti pengejaan nama maupun nomor induk. Jumlah total dokumen yang kita musnahkan mencapai 18.080 lembar,” kata Kepala Dindik Provinsi Banten Hudaya Latuconsina, didampingi Rektor Untirta Soleh Hidayat, dan petugas Polda Banten.
Rincian dokumen yang dimusnahkan tersebut meliputi ijasah rusak sebanyak 4.940 lembar, dan ijazah sisa sebanyak 6.914 lembar. Sedangkan SKHUN rusak sebanyak 1.791 lembar dan yang tidak terpakai sebanyak 4.435 lembar.
Selain ijazah dan SKHUN, dalam kesempatan itu, Dindik juga memusnahkan ribuan lembar soal Ujian Nasional (UN) 2011 beserta lembar jawabannya. Kata Hudaya, pemusnahan dokumen itu sebagai antisipasi kemungkinan terjadinya penyalahgunaan atau pemanfaatan dokumen oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
“Lembar soal UN 2011 yang ada di sekolah bisa saja dimanfaatkan untuk bekal pembelajaran siswa, tapi soal UN yang ada di Dindik harus dimusnahkan. Karena, Dikhawatirkan ada isu kebocoran soal UN 2012, padahal itu merupakan soal dari 2011,” paparnya.
Ditegaskannya, jika muncul ijazah maupun SKHUN keluar setelah adanya pemusnahan itu, patut dicurigai. Namun dokumen-dokumen itu bisa dicek kebenarannya dengan melihat kode. “Kode-kode itu akan berubah setiap tahunnya,” ujar dia.
Dikatakan, dokumen-dokumen yang dimusnahkan tersebut merupakan akumulasi dari semua jenjang sekolah, mulai dari SD, hingga sekolah tingkat menengah dan sederajat. “Namun untuk lembar soal dan jawaban UN 2011 tidak dimusnahkan semua disini. Tapi akan dilakukan di tempat berbeda karena jumlahnya sangat banyak,” terangnya.
Rektor Untirta Soleh Hidayat yang juga Ketua Kordinator Pengawas Independen UN tingkat Provinsi Banten mengatakan, pihaknya akan berupaya meningkatkan pengawasan dalam pelaksanaan UN 2012, sehingga hasil dari pelaksanaan UN tersebut berkualitas serta bebas dari pelangaran dan kecurangan.
“Pengawasan dari kami tentunya akan terus dioptimalkan. Sehingga pelaksanaan UN di Banten lebih berkualitas serta berjalan sesuai ketentuan,” kata Soleh.(yul/bin)
]]>Menurut Hudaya, sesuai Prosedur Operasional Standar (POS) UN 2012, pelaksanaan UN untuk tingkat SMA/MA/SMALB akan digelar pada 16-19 April 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 23-26 April. Kemudian untuk jenjang SMP/MTs/SMPLB, UN akan dilaksanakan pada 23-26 April 2012, dan UN susulan akan berlangsung pada 30 April-4 Mei 2012. Selanjutnya untuk jenjang SD/MI/SDLB, UN akan digelar pada 7-9 Mei 2012, dan UN susulan akan dilaksanakan pada 14-16 Mei 2012.
“Untuk pengumuman hasil UN untuk tingkat SMA/MA dan SMK akan diumumkan pada 24 Mei 2012. Tingkat SMP/MTs, SMPLB, dan SMALB pada 2 Juni 2012, untuk tingkat SD menjadi kewenangan masing-masing provinsi,” ujarnya.
Hudaya menuturkan, saat ini pihaknya tengah memverifikasi calon peserta UN dari setiap sekolah penyelenggara UN di Kabupaten dan Kota di Banten, dan akhir Januari 2012 ini calon peserta UN 2012 sudah dikirim ke pusat atau Daftar Nominasi Tetap (DNT).
“Saat ini, kami melasih melakukan proses verifikasi. Jadi rincian peserta UN dari Kabupaten dan Kotanya belum bisa diinformasikan.Mudah-mudahan, besok atau lusa hasil verifikasinya sudah bisa diinformasikan,” tuturnya.
Terkait dengan pengadaan naskah soal UN 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengubah sistem penggandaan soal UN tahun 2012. Jika tahun sebelumnya dilakukan di tingkat provinsi maka UN tahun 2012 penggandaan soal dilakukan secara terpusat. “Perubahan sistem penggandaan soal UN 2012 secara terpusat merupakan kebijakan Kemendikbud dalam rangka meningkatkan pengawasan dan keamanan terhadap soal UN 2012,” terangnya.
Untuk penyusunan dan penggandaan naskah soal UN tingkat SD/MI/SDLB, lanjut Hudaya dilakukan oleh provinsi dan penyusun soal UN SD/MI/SDLN merupakan tim yang terdiri dari guru mata pelajaran yang mengerti tentang konstruksi soal UN. “Kami menharapkan tingkat kelulusan UN tahun 2012 mencapai 100 persen karena kalau bicara kelulusan, tentu harus 100 persen lulus dan tidak ada UN susulan,” harapnya.
Untuk mencapai harapan kelulusannya itu, pihaknya akan menekankan kepada guru mata pelajaran yang akan diujikannya di setiap sekolah Kabupaten dan Kota di Banten, seperti guru bahasan indonesia, guru bahasa inggris, guru matematika, sosialologi dan beberapa mata pelajaran lain agar memberikan pelajaran maksimal terhadap siswanya. Sehingga, setiap peserta yang mengikuti UN mendapatkan nilai kelulusan rata-rata 5,5 sesuai dengan standar kelulusan UN 2012.
“Tapi, kami minta setiap sekolah dan peserta UN tidak boleh berbuat curang dalam pelaksanaan UN.Karena, akan merugikan terhadap diri sendiri dan orang lain.Nilai UN yang didapat harus dari kerja keras siswa, bukan hasil kecurangan,” pintanya.
Kepala Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Dinas Pendidikan Provinsi Banten Ino S Rawita menambahkan, saat ini Dinas Pendidikan Provinsi Banten baru menetapkan DNS UN 2012 sebanyak 420 ribu siswa.
“DNS peserta UN 2012 merupakan data calon peserta UN yang dikirimkan dari Dinas Pendidikan kabupaten/kota se-Provinsi Banten,” kata Ino.
Menurut Ino, DNS peserta UN ini akan diverifikasi kembali. Sehingga, untuk mengetahui jumlah peserta UN 2012 bisa diketahui setelah DNT peserta UN ditetapkan. “Jadi, jumlah peserta UN yang ada saat ini, bisa berkurang dan bisa juga bertambah,” ujarnya.
Seperti diketahui, pada 2011, jumlah peserta UN mencapai 465.222 siswa terdiri atas peserta UN SD/MI/SDLB sederajat sebanyak 197.840 siswa, SMP/MTs /sederajat 166.953 siswa, SMA/sederajat 56.570 dan SMK mencapai 43.859 siswa. (eman/bnn)
]]>