Memberi Pencerahan Melalui Ideologi Pancasila
SERPONG, TAPOS. Organisasi masyarakat atau biasa disebut dengan Ormas, belakangan ini mengalami semacam krisis. Orang-orangnya terkesan bebas nilai karena bisa seenaknya menyerang pihak-pihak yang dinilai berseberangan. Namun ormas Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) berbeda. Ormas ini memang ingin memberikan semacam pencerahan kepada masyarakat dalam arti yang lebih luas, dengan tetap berbasiskan pada ideologi Pancasila dan UUD 45.
Demikian benang merah pembicaraan pengurus Gafatar dalam program Ngobrol Santai Bareng (Ngobras) Tangsel Pos-Tangerang Pos yang digelar di kantor redaksi kawasan Ruko Golden Road Blok C no 32 No 12, ITC Bumi Serpong Damai (BSD), Jalan Pahlawan Seribu, Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Selasa (23/7) siang.
Pengurus teras ormas Gafatar itu di antaranya Dani Winarlan (Bidang Hukum dan HAM), As’ari Mikaya (Wakil Ketua DPD), dan Musliadi (Bagian Informasi dan Komunikasi/Infokom).
“Seluruh anggota Gafatar harus taat pada aturan. Kalau kemudian ada anggota Gafatar yang melanggar hukum, maka akan ada sanksinya. Ketika berkendaraan di jalan raya misalnya, anggota Gafatar harus memiliki SIM dan membawa STNK,” ungkap Dani, ketika ditanya soal kecenderungan ormas yang belakangan ini terkesan bebas nilai itu.
Dia juga menegaskan, berbicara soal aturan, Gafatar memang sangat tegas. “Anggota Gafatar itu tidak boleh mencuri, berzinah, tidak boleh berdusta, dan tidak boleh membunuh. Ini penting sehingga anggota Gafatar itu menjunjung moral dan etika dalam kehidupan di masyarakat, juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tuturnya.
Pada bagian lain As’ari menerangkan, Gafatar menggunakan simbol matahari terbit di hari senja. Simbol tersebut diartikan sebagai sinar yang harus menerangi seluruh masyarakat Indonesia dan bahkan dunia, karena ideologi Pancasila menjadi satu kekuatan untuk itu.
“Gafatar itu dibangun bukan untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu, juga bukan untuk golongan, aliran, suku, agama, dan kepercayaan atau ras mana pun. Gafatar bukan sarana untuk mencari kekuasaan, jabatan, kekayaan, atau prestise duniawi. Namun Gafatar merupakan gerakan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ungkap As’ari.
Tidak kalah penting, lanjut dia, anggota Gafatar siap menjadi eksponen-eksponen bagi kebangkitan dan kejayaan Nusantara, agar bangsa ini bisa dincontoh dan diteladani bangsa-bangsa lain.
Jatidiri Bangsa dan Budi Pekerti
As’ari juga mengaku, bangsa dan negara ini tengah mengalami keperpurukan di berbagai lini kehidupan. Tentu saja keperpurukan itu harus dibangkitkan kembali. Hal itu di antaranya dengan memberikan wawasan kebangsaan kepada para generasi muda.
“Gafatar itu harus menjadi wadah pemersatu anggota. Oleh karena itu, anggotanya dilakukan pembinaan kebangsaan dan Pancasila.
Karena Pancasila itu nantinya akan menjadi jati diri bangsa, dan akan sangat menentukan kualitas bangsa ini ke depan.” paparnya.
Makanya, lanjut dia, Pancasila harus dipertahankan karena merupakan nilai-nilai luhur bangsa, dan bahkan filosofinya pun merupakan tingkat dunia. “Bangsa ini juga memiliki budaya-budaya luhur, dan itu harus bisa diterapkan dalam kehidupan saat ini,” paparnya.
Dani juga menambahkan, saat ini banyak ormas yang tumbuh di masyarakat. Namun ormas Gafatar akan tetap berjalan pada koridor dan akan menghindar bergesekan dengan ormas-ormas lain. “Ciri anggota Gafatar adalah pada budi pekerti,” ungkap Dani.
Oleh karena itu, kehidupan yang penuh dengan solidaritas dan gotong rotong, akan selalu menjadi pegangan anggota Gafatar.
Dalam menghidupkan Gafatar pun lanjut Dani, tidak mengandalkan pada investor, apalagi investor dari luar negeri atau negara asing.
“Kami menghidupkan organisasi itu dengan cara iuran secara sukarela. Angota kami memang memiliki kesadaran itu. Meski begitu program-program kami tetap berjalan seperti melakukan bakti sosial kepada masyarakat. Demikian juga dalam mensosialisasikan Pancasila. Sifatnya tidak retorik, namun bekerja dan sifatnya lebih aplikatif,” paparnya.(bud)







