Di Sela-sela Pelatihan Kelompok Ekonomi Rakyat, Aksi Saweran untuk Gedung KPK Semakin Membesar
BINONG, TAPOS. Aksi saweran untuk membangun gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menggelinding.
Kali ini dilakukan peserta “Pelatihan Pembinaan Kelompok Ekonomi Rakyat” di Padepokan Karang Tumaritis, Kampung Babakan, Kecamatan Binong, Kabupaten Tangerang, Jumat (6/7).
“Saweran ini sebagai bentuk kepedulian peserta terhadap KPK. Mereka berharap penegakan bisa dilakukan KPK. Tentu penegakan itu tidak hanya skala nasional, akan tetapi itu bisa direalisasikan di Propinsi Banten dan Kabupaten Tangerang,” paparnya.
Diakuinya ananta praktik-praktis korupsi diduga masih terjadi di Banten. Paling tidak, dia merujuk pada berita-berita yang dilansir koran-koran lokal. Karena itu, KPK diharapkan bisa juga menangani kasus-kasus korupsi di Banten dan Kabupaten Tangerang.
Ananta, yang juga anggota DPRD Propinsi Banten ini, berpendapat penanganan kasus korupsi semestinya tidak melulu mengacu pada delik aduan. “Kalau memang sudah ada indikasi korupsi di sebuah daerah tertentu misalnya, KPK bisa masuk melakukan penyelidikan,” teragnya.
Terkait dengan program “Pelatihan Pembinaan Kelompok Ekonomi Rakyat”, Ananta menuturkan pelatihan diikuti sekitar 62 orang.
“Mereka pernah terjun dalam dunia usaha, namun mengalami kegagalan. Namun juga ada yang korban PHK,” ungkap politisi PDIP Banten ini.
Pelatihan ini akan berlangsung selama tiga hari, sejak Jumat-Minggu (6-8/7) mendatang.
Diakui Anata, saat ini sangat sulit mencari pekerjaan. Demikian juga tidak mudah bagi seseorang terjun dalam dunia usaha. Namun di padepokan ini mereka didik membangun usaha secara kelompok atau gotong royong, termasuk juga bagaimana membangun koprasi.
Menurut Ananta, sebelumnya Padepokan Karang Tumaritis memberikan pelatihan usaha kepada warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Tangerang.
“Kami sudah memberikan pelatihan ternak bebek dan berbagai kerajinan sehingga mereka sekarang punya usaha sendiri. Ini juga sebagai bentuk mengatasi pengangguran,” ujarnya.
Nara sumber palatihan di hari pertama Triyas Prasetyo dari Yayasan Mitra Tani Yogyakarta. Dia memberikan contoh-contoh usaha yang memiliki prospek yang bagus dan bisa dilakukan secara kelompok seperti memelihara kambing atau menjual makanan.
Dia juga mengatakan usaha-usaha secara kelompok yang berorientasi pada rakyat kecil sudah dilakukan di China, seperti dalam pembuatan motor.
“Di sana ada yang khusus mengerjakan bautnya saja. Di sana juga ada bagian yang menjual produknya,” papar dia.
Hal itu berbeda dengan di Indonesia yang cenderung memihak pada kapitalis. Tak heran jika berbagai jenis usaha dikuasai dari mulai hulu ke hilir.
“Dalam bisnis kapitalisitik rakyat tidak diberi kesempatan. Kalau pun ada tidak ada ikatan pasti,” tuturnya.(bud)







