Demo Tolak BBM Naik di Serang Ricuh
SERANG, TAPOS. Aksi penolakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dilakukan Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Untirta di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Banten, berakhir ricuh, Selasa (20/3). Bahkan, petugas kepolisian yang menjaga jalannya aksi tersebut terpaksa harus menyemprotkan gas airmata untuk membubarkan massa yang jumlahnya mencapai 500 orang tersebut.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kericuhan itu bermula saat massa memaksa masuk ke dalam gedung DPRD Banten, di Kawasan Pusat Pemerintah Provinsi Banten, Curug, Kota Serang. Mereka meminta agar pimpinan, ketua fraksi beserta stake holder bersama-sama mahasiswa menolak rencana pemerintah pusat dalam menaikan harga BBM, 1 April mendatang.
Meski sempat ditemui seorang anggota DPRD dari Fraksi PDIP, Asep Rahmatullah, mahasiswa itu menolak. Mereka terus memaksa masuk ke dalam gedung. Aksi saling dorong pun terjadi antara demonstran bersama petugas kepolisian dari Mapolres Serang yang berjaga.
Kecewa tidak dapat masuk, massa yang terdiri dari sejumlah elemen ormawa Untirta seperti, PMII Cabang Serang, HMI Cabang Serang, BEM FH Untirta, BEM FKIP Untirta, BEM Faperta Untirta, BEM FE Untirta, GMNI, FAM, SAPMA Pemuda Pancasila,Untirta Movement Community (UMC), dan Himpunan Mahasiswa Serang (Hamas) kemudian membakar ban bekas di bawah bawah papan nama gedung DPRD Banten.
Melihat aksi pembakaran, aparat kepolisian berusaha memdamkan api, namun hal itu dicegah massa. Saling dorong antar kepolisian dan demonstran terjadi lagi, bahkan terdapat sejumlah aparat kepolisian dan mahasiswa yang terlibat aksi saling pukul, tendang, dan lempar batu serta tongkat.
Tidak lama berselang, polisi anti huru-hara kemudian menembakan peringatan serta menyemprotkan gas air mata, sampai akhrinya massa membubarkan diri. Namun, akibat dari bentrok tersebut, tiga mahasiswa mengalami luka ringan, dan dua mahasiswa lainnya terpaksa dilarikan ke puskesmas terdekat karena tidak sadarkan diri.
Presiden UMC, Mahendra Septianzah membenarkan, akibat dari bentrok tersebut ada lima kawannya yang menjadi korban. “Dua mahasiwi yang pingsan karena terkena gas airmata sudah dibawa kepuskesmas. Yang tiga lagi memang mengalami luka ringan, ada yang pipinya sobek, ada juga yang salah satu jarinya patah,” kata Mahendra.
Ia mengungkap, sebenarnya tujuan menggelar demo di Gedung DPRD Banten karena mengingingkan agar para elit pemerintahan di Banten menyamakan persepsi dengan mahasiswa untuk menolak tegas rencana kenaikan BBM.
“Kami mengingkan mereka hadir di tengah aksi, tapi kenyataannya tidak ada. Hal ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung mereka mendukung rencana kenaikan tersebut,” ujar dia.
Mahendra menambahkan, pihaknya beserta seluruh KBM se-Banten telah berkoalisi untuk menggelar aksi serupa, namun tentu dengan jumlah massa yang lebih banyak. “Kami tidak akan menyerah,” tegasnya.
Sementara itu, penolakan kenaikan harga BBM juga disuarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Banten. Menurutnya, kenaikan harga BBM sebagaimana program pembatasan BBM bersubsidi sama artinya dengan penghapusan subsidi BBM. Dimana rakyat dipaksa untuk beralih kepada BBM non subsidi seperti pertamax. Inilah saat yang ditunggu oleh perusahaan Migas asing.
“Kenaikan harga BBM meski alasannya resmi dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia, sebagaimana juga program pembatasan subsidi BBM yang sempat diterapkan, merupakan langkah lanjut menuju liberalisasi Migas,” ungkap budi Harsanto, Humas HTI DPD Banten, kemarin.(yul)







